
22 July 2008

Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kami sekeluarga bertiga: Papi, Mami, dan Pandu. Setiap hari di rumah kami yang mungil ada keceriaan, proses belajar dan saling berbagi kasih.
Siapkan Teknologi Informasi, Ingin Anak Ujian di Inggris.
Budiman Husain, 35, dan Maria Magdalena, 32, tergolong orang tua idealis. Mereka mencoba mempraktikkan sekolah rumah (home schooling) untuk Sebastian Pandu Husain, 3. Bocah itu sudah melek teknologi informasi.
Bagaimana proses belajar-mengajarnya?
NUNGKI KARTIKA SARI, Sidoarjo
"Aku ingin jadi astronot," ujar Pandu. Bocah berkulit putih itu tampak asyik dengan permainan lego. Mainan asal Jepang tersebut diutak-atik hingga jadi berbagai bentuk. Salah satunya, gajah. Lalu, sang ibu, Maria, bercerita tentang banyak hal mengenai binatang berbelalai itu. Selipan kata-kata bahasa Inggris muncul dalam dialog antara ibu dan anak yang siang tersebut lebih terlihat sebagai seorang guru dengan murid.
"Home schooling itu tidak rumit, kok. Orang tua mana pun bisa melakukannya sebagai alternatif pendidikan," kata Maria yang tinggal di Perumahan Pondok Mutiara. Meski mengaku hanya lulusan SMA, dia bisa mengajar Pandu yang seusia murid playgroup tersebut dengan inovatif.
Panduan kurikulum, materi pengajaran, metode belajar-mengajar, sampai fasilitas pembelajaran di-browsing dari internet. Maria mengambil kurikulum dari Universitas Cambridge di Inggris. "Kalau ada kesulitan, saya bisa sharing lewat internet dengan banyak orang tua yang menerapkan home schooling di Indonesia maupun di luar negeri," tutur perempuan yang memulai jadi guru untuk anaknya sejak setahun lalu itu.
Maria kini punya semacam kelompok belajar yang disebut Klub Sinau. Anggotanya adalah lima anak berusia 3-5 tahun. Mereka belajar di rumah masing-masing. Namun, setiap bulan, lima anak tersebut bersama orang tua masing-masing bertemu dalam sebuah even. "Kami sepakat b ahwa sekoah di rumah lebih berkualitas untuk anak-anak," ujarnya.
Di rumah, anak-anak bisa belajar tanpa dibebani target. Mereka bisa mencapai hasil belajar yang optimal tanpa tekanan. Dia mencontohkan keterampilan Pandu yang kini telah bisa mengoperasikan program Linux.
Bocah kelahiran 8 April 2004 tersebut juga bisa membaca kata dan menulis kata-kata sederhana. Termasuk, menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan Pandu dalam menggambar dan mewarnai lebih menonjol lagi. "Dia (Pandu, Red) memilih sendiri pelajarannya. Sedangkan saya berusaha menyesuaikan dengan pedoman di kurikulum," lanjut Maria.
Untuk semua kebutuhan Pandu, Budiman dan Maria menyiapkan berbagai fasilitas pendukung. Seperti, aneka permainan, play station, laptop, TV kabel, dan akses internet.
Budiman dan Maria membiarkan Pandu bermain dan bertanya tentang apa saja. Bahkan, dia dibiarkan tidur pukul berapa pun. "Tapi, kalau nonton TV, saya arahkan pada Disney channel," ucap Budiman.
Sejauh ini, Pandu tidak mengalami kesulitan berarti. Dia kerap bisa memecahkan sendiri kesulitan dalam bermain maupun belajar. "Kami hanya berusaha menjadi fasilitator untuk pemecahan kesulitan itu," tambahnya.
Pasutri itu bertekad menerapkan home schooling hingga Pandu bisa memilih pendidikan sendiri. "Kami berencana mengikutkan Pandu untuk ujian sesuai dengan standar Cambridge di Inggris," tegas Maria.
Menurut dia, pilihan homeschooling untuk Pandu itu sempat diragukan, bahkan di protes oleh keluarga besar mereka. Namun, secara perlahan, mereka memberikan pengertian bahwa metode tersebut akan membawa hasil bagus. "Masa depan anak tidak hanya berupa selembar kertas, melainkan skill dan pengetahuan," ungkap Maria dengan mantap. (roz)
No comments:
Post a Comment